Wednesday, June 6, 2018

Peran Kader HMI dalam mendayagunakan media sosial secara berkualitas

Wednesday, June 06, 2018 1 Comments

Selama hampir seperempat abad internet telah digunakan di masyarakat dunia. Sampai saat ini Internet sudah digunakan oleh masyarakat dari berbagai usia dan generasi. Hal tersebut dibutikan dari hasil penelitian Yahoo dan Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia tahun 2009 menunjukkan pengakses terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia antara 15-19 tahun. Dari 2.000 responden yang mengikuti survei ini, didapat hasil sebanyak 64 persen adalah anak muda. Masih dari hasil penelitian yang sama, 53 persen dari anak usia 15-19 tersebut ternyata menggunakan mengakses Internet dari warnet. Itu disebabkan oleh mereka mempunyai waktu luang yang lebih banyak dibanding para pekerja (Kompas.com, 20/03/2009).
 Pengunaan internet yang paling banyak yaitu dalam media sosial.  Hampir setiap orang yang memiliki telepon pintar, juga mempunyai akun media sosial, seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan sebagainya. Kondisi ini seperti sebuah kelaziman yang mengubah bagaimana cara berkomunikasi pada era serba digital seperti sekarang. Jika dahulu, perkenalan dilakukan dengan cara konvensional, yakni (biasanya) diiringi dengan saling tukar kartu nama, sekarang setiap kita bertemu orang baru cenderung untuk bertukar alamat akun atau membuat pertemanan di media sosial.
Dengan berkembangnya teknologi internet dan banyak penduduk di Indonesia menggunakan internet serta mempunyaimedia sosial seperti facebook, twitter, blog dan youtube, Hal ini menjadi jelas bahwa
alat online memainkan peran penting dalam membentuk opini publik dan pengaturan agenda politik (Woolley, Limperos and Oliver, 2010 )

Politisi , warga dan wartawan semakin mengadopsi media sosial baru seperti Twitter , Facebook dan Youtube untuk mendukung tujuan-tujuan politik mereka , baik itu untuk terlibat dengan para pemangku kepentingan lainnya dalam ruang publik politik , kampanye , menyebarkan atau mengambil informasi , atau berkontribusi terhadap perdebatan rasional – kritis (Habermas, 2006).
Permasalah yang timbul dari penggunaan media sosial saat ini adalah banyaknya hoax yang menyebar luas, bahkan orang terpelajar pun tidak bisa bedakan mana berita yang benar, advertorial dan hoax. Penyebaran tanpa dikoreksi maupun dipilah, pada akhirnya akan berdampak pada hukum dan informasi hoax-pun telah memecah belah publik. Media sosial sering menjadi tempat tumbuhnya berita-berita hoax.
Penyebaran hoax di media sosial Indonesia, mulai marak sejak media Sosial populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis. Beberapa orang yang tidak bertanggungjawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.
Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki (Respati, 2017). Contohnya jika seseorang penganut paham  bumi datar memperoleh artikel yang membahas tentang berbagai teori konspirasi mengenai foto satelit maka secara naluri orang tersebut akan mudah percaya karena mendukung teori bumi datar yang diyakininya. Secara alami perasaan positif akan timbul dalam diri seseorang jika opini atau keyakinannya mendapat afirmasi sehingga cenderung tidak akan mempedulikan apakah informasi yang diterimanya benar dan bahkan mudah saja bagi mereka untuk menyebarkan kembali informasi tersebut. Hal ini dapat diperparah jika si penyebar hoax memiliki pengetahuanyang kurang dalam memanfaatkan internet guna mencari informasi lebih dalam atau sekadar untuk cek dan ricek fakta
Berdasarkan latar belakang diatas kami selaku penulis bertujuan untuk mengetahui peran kader HMI sebagai insan akademis dalam menangkal berita hoax dengan mendayagunakan sosial media dengan bijaksana.
bagaimana peran kader HMI dalam mendayagunakan media sosial untuk menangkal berita hoax?


 simak pembahasan berikut ini 
2.1 Media Sosial
Istilah media sosial tersusun dari dua kata, yakni “media” dan “sosial”. “Media” diartikan sebagai alat komunikasi (Laughey, 2007) Sedangkan kata “sosial” diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang memberikan kontribusi kepada masyarakat. Pernyataan ini menegaskan bahwa pada kenyataannya, media dan semua perangkat lunak merupakan “sosial” atau dalam makna bahwa keduanya merupakan produk dari proses sosial (Durkheim dalam Fuchs, 2014).
Dari pengertian masing-masing kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah alat komunikasi yang digunakan oleh pengguna dalam proses sosial. Namun, menurut Nasrullah (2015), untuk menyusun definisi media  sosial, kita perlu melihat perkembangan hubungan individu dengan perangkat media. Karakteristik kerja komputer dalam Web 1.0 berdasarkan pengenalan individu terhadap individu lain (human cognition) yang berada dalam sebuah sistem jaringan, sedangkan Web 2.0 berdasarkan sebagaimana individu berkomunikasi (human communication) dalam jaringan antarindividu. Terakhir,dalam Web 3.0 karakteristik teknologi dan relasi yang terjadi terlihat dari bagaimana manusia (users) bekerja sama (human cooperation) (Fuchs, 2008).
Media sosial merupakan sarana efektif dan efisien dalam menyampaikan suatu informasi kepada pihak lain. Media sosial sebagai media dengan dinamika sosial yang sangat tinggi dan memungkinkan komunikasi terbuka kepada berbagai pihak dengan beragam latar belakang dan kepentingan adalah sarana yang tepat untuk membangkitkan partisipasi warga dalam membangun kota. Seperti yang dikemukan Howard dan Parks (2012). Media sosial adalah media yang terdiri atas tiga bagian, yaitu : Insfrastruktur informasi dan alat yang digunakan untuk memproduksi dan mendistribusikan isi media, Isi media dapat berupa pesan-pesan pribadi, berita, gagasan, dan produk-produk budaya yang berbentuk digital, Kemudian yang memproduksi dan mengkonsumsi isi media dalam bentuk digital adalah individu, organisasi, dan industri.
2.1.1   Jenis Media Sosial
Kaplan dan Haenlein (2010) membagi berbagai jenis media sosial ke dalam 6 (enam) jenis, yaitu
1.    Collaborative Projects,
yaitu suatu media sosial yang dapat membuat konten dan dalam pembuatannya dapat diakses khalayak secara global. Kategori yang termasuk dalam Collaborative Projects dalam media sosial, yaitu WIKI atau Wikipedia yang sekarang sangat popular di berbagai negara. Collaborative Projects ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung citra perusahaan, terlepas dari pro-kontra soal kebenaran isi materi dalam situs tersebut.
2.     Blogs and Microblogs,
yaitu aplikasi yang dapat membantu penggunanya untuk menulis secara runut dan rinci mengenai berita, opini, pengalaman, ataupun kegiatan sehari-hari, baik dalam bentuk teks, gambar, video, ataupun gabungan dari ketiganya. Kedua aplikasi ini mempunyai peran yang sangat penting baik dalam penyampaian informasi maupun pemasaran produk. Melaluikedua aplikasi tersebut, pihak pengguna dengan leluasa dapat mengiring opini masyarakat atau pengguna internet untuk lebih dekat dengan mereka tanpa harus bersusah-susah menyampaikan informasi secara tatap muka.
3.     Content Communities
yaitu sebuah aplikasi yang bertujuan untuk saling berbagi dengan seseorang baik secara langsung maupun tidak langsung, di mana dalam aplikasi ini user atau penggunanya dapat berbagi video, ataupun foto. Sosial media ini dapat dimanfaatkan untuk mempublikasikan suatu bentuk kegiatan positif yang dilakukan oleh satu perusahaan, sehingga kegiatan tersebut akan mendapatkan perhatian khalayak dan pada akhirnya akan membangun citra positif bagi perusahaan.
4.    Social Networking Sites
Situs Jejaring Sosial, yaitu merupakan situs yang dapat membantu seseorang atau pengguna internet membuat sebuah profil dan menghubungkannya dengan pengguna lain. Situs jejaring sosial memungkinkan penggunanya mengunggah hal-hal yang sifatnya pribadi seperti foto, video, koleksi tulisan, dan saling berhubungan secara pribadi dengan pengguna lainnya melalui private pesan yang hanya bisa diakses dan diatur pemilik akun tersebut. Situs jejaring sosial sangat berperan dalam hal membangun dan membentuk brand image, karena sifatnya yang interaktif sehingga pengguna dapat dengan mudah mengirim dan menerima informasi, bahkan dapat digunakan sebagai media komunikasi dan klarifikasi yang nyaman antara pemilik produk dengan konsumennya.
5.    Virtual Game Worlds,
yaitu permainan multiplayer di mana ratusan pemain secara simultan dapat di dukung. Media sosial ini sangat mendukung dalam hal menarik perhatian konsumen untuk tahu lebih banyak dengan desain grafis yang mencolok dan permainan warna yang menarik, sehingga terasa lebih informative dan interaktif.
6.  Virtual Social Worlds
yaitu aplikasi yang mensimulasi kehidupan nyata dalam internet. Aplikasi ini menungkinkan pengguna berinteraksi dalam platform tiga dimensi menggunakan avatar yang mirip dengan kehidupan nyata. Aplikasi ini sangat membantu dalam menerapkan suatu strategi pemasaran atau penyampaian informasi secara interaktif serta menarik.


2.1.2 Fungsi Media Sosial
Fungsi media sosial dapat diketahui melalui sebuah kerangka kerja honeycomb. Menurut Kietzmann, etl (2011) menggambarkan hubungan kerangka kerja honeycomb sebagai penyajian sebuah kerangka kerja yang mendefinisikan media sosial dengan menggunakan tujuh kotak bangunan fungsi yaitu identity, cenversations, sharing, presence,relationships, reputation, dan groups.
1.    Identity menggambarkan pengaturan identitas para pengguna dalam sebuah media sosial menyangkut nama, usia, jenis kelamin, profesi, lokasi serta foto.
2.    Conversations menggambarkan pengaturan para pengguna berkomunikasi dengan pengguna lainnya dalam media sosial.
3.      Sharing menggambarkan pertukaran, pembagian, serta penerimaan konten berupa teks, gambar, atau video yang dilakukan oleh para pengguna.
4.       Presence menggambarkan apakah para pengguna dapat mengakses pengguna lainnya.
5.      Relationship menggambarkan para pengguna terhubung atau terkait dengan pengguna lainnya.
6.      Reputation menggambarkan para pengguna dapat mengidentifikasi orang lain serta dirinya sendiri.
7.      Groups menggambarkan para pengguna dapat membentuk komunitas dan subkomunitas yang memiliki latar belakang, minat, atau demografi.
Melalui media sosial, ratusan bahkan ribuan informasi disebar setiap harinya. Bahkan orang kadang belum sempat memahami materi informasi, reaksi atas informasi tersebut sudah lebih dulu terlihat. Memang, media sosial memberikan kemerdekaan seluas-luasnya bagi para pengguna untuk mengekspresikan dirinya, sikapnya, pandangan hidupnya, pendapatnya, atau mungkin sekadar menumpahkan unek-uneknya. Termasuk memberikan kebebasan apakah media sosial akan digunakan secara positif atau negatif.( Juliswara,2017).


2.2      Gejala Hoax
Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/ kejadian sejatinya.Definisi lain menyatakan hoax adalah suatu tipuan yang digunakan untuk mempercayai sesuatu yang salah dan seringkali tidak masuk akal yang melalui media online(https://www.merriamwebster. com).
Rahadi (2017) menambahkan pernyataan seperti dalam jurnalnya bahwa Hoax bertujuan untuk membuat opini publik, menggiring opini publik, membentuk persepsi juga untuk hufing fun yang menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna internet dan media sosial. Tujuan penyebaran hoax beragam tapi pada umumnya hoax disebarkan sebagai bahan lelucon atau sekedar iseng, menjatuhkan pesaing (black campaign), promosi dengan penipuan, ataupun ajakan untuk berbuat amalan – amalan baik yang sebenarnya belum ada dalil yang jelas di dalamnya. Namun ini menyebabkan banyak penerima hoax terpancing untuk segera menyebarkan kepada rekan sejawatnya sehingga akhirnya hoax ini dengan cepat tersebar luas.
Masyarakat sebagai konsumen informasi bisa dilihat masih belum bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang palsu atau hoax belaka. Beberapa faktor mempengaruhi terjadinya hal ini diantaranya yaitu ketidaktahuan masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijaksana. Dengan mengatasnamakan kebebasan para pengguna internet dan media sosial khususnya banyak netizen yang merasa mempunyai hak penuh terhadap akun pribadi miliknya. Mereka merasa sah-sah saja untuk menggunggah tulisan, gambar atau video apapun ke dalam akunnya. Meskipun terkadang mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka unggah tersebut bisa saja melanggar etika berkomunikasi dalam media sosial ( Juliswara,2017).
Kegaduhan yang terjadi di media sosial dinilai bisa merambat ke dunia nyata jika tidak segera diatasi. Perbincangan yang terdapat di media sosial berpotensi mengkonstruksi pemahaman public mengenai suatu hal dalam kehidupan masyarakat. Kegaduhan di media sosial dapat berdampak dalam kehidupan riil karena media sosial ini juga membentuk konstruksi pemaknaan tentang asumsi sosial kita. Kegaduhan yang terjadi di media sosial semacam itu kerap kali menggunakan sentiment identitas yang bermuara pada hujatan dan kebencian dan karenanya dapat melunturkan semangat kemajemukan yang menjadi landasan masyarakat dalam berbangsa. Pada akhirnya konsep tentang kebinekaan mengalami dekonstruksi oleh argumen-argumen yang ikut dibentuk melalui media sosial. Dalam merespon persoalan semacam itu, Kemenkominfo diharapkan dapat merumuskan konsep yang sesuai dalam mengantisipasi terjadinya kegaduhan di media sosial. Di sisi lain, persoalan mengatasi kegaduhan di media sosial melalui penegakan hukum juga tidak perlu merusak semangat kebebasan berekspresi dalam sistem yang demokratis (Juliswara,2017).
Menurut Rahadi (2017) dalam jurnalnya menyebutkan berberapa jenis-jenis  informasi hoax yaitu diantaranya :
1.    Fake news
Berita bohong yaitu Berita yang berusaha menggantikan berita yang asli.
Berita ini bertujuan untuk memalsukan atau memasukkan ketidakbenaran dalam
suatu berita. Penulis berita bohong biasanya menambahkan hal-hal yang tidak benar dan teori persengkokolan, makin aneh, makin baik. Berita bohong bukanlah komentar humor terhadap suatu berita.
2.    Clickbait
Tautan jebakan: Tautan yang diletakkan secara stategis di dalam suatu
situs dengan tujuan untuk menarik orang masuk ke situs lainnya. Konten di dalamtautan ini sesuai fakta namun judulnya dibuat berlebihan atau dipasang gambar yang menarik untuk memancing pembaca.
3.    Confirmation bias
Bias konfirmasi atau Kecenderungan untuk menginterpretasikan kejadian yang baru
terjadi sebaik bukti dari kepercayaan yang sudah ada.
4.    Misinformation
Informasi yang salah atau tidak akurat, terutama yang ditujukan untuk menipu.
5. Satire
Sebuah tulisan yang menggunakan humor, ironi, hal yang dibesar-besarkan untuk mengkomentari kejadian yang sedang hangat. Berita satir dapat dijumpai di pertunjukan televisi seperti “Saturday Night Live” dan “This Hour has 22Minutes”.
6. Post-truth:
Pasca-kebenaran: Kejadian di mana emosi lebih berperan daripada fakta
untuk membentuk opini publik.
7. Propaganda
 Aktifitas menyebar luaskan informasi, fakta, argumen, gosip,
setengah-kebenaran, atau bahkan kebohongan untuk mempengaruhi opini
publik.
2.3      Peran Kader HMI Dalam Mendayagunakan Media Sosial Dengan Berkualitas
Sebagai kader HMI yang memiliki lima kualitas insan cita yaitu insan akademis,pencipta,pengabdi,bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur diharapkan mampu mendayagunakan media sosial dengan berkualitas untuk menanggulangi kejahatan dalam media sosial seperti informasi hoax. Kader HMI harus mengambil peran untuk menjadi pengkampanye cerdas bermedia sosial namun sebelum melangkah lebih jauh ada berberpa hal yang perlu di terapkan dalam bermedia sosial salah satunya yaitu etika bermedia sosial.
Hal tersebut disampaikan oleh  Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI (2014) yang menyatakan bahwa Dalam kehidupan bersosial di masyarakat, istilah etika dikaitkan dengan moralitas seseorang. Orang yang tidak memiliki etika yang baik sering disebut tidak bermoral
karena tindakan dan perkataan yang diambil tidak melalui pertimbangan baik dan buruk. Kata etika dan moral juga sering dikaitkan dengan dunia pendidikan, karena menyangkut pertimbangan akan nilai-nilai baik yang harus dilakukan dan nilai-nilai buruk yang harus dihindari. Tidak adanya filter atau saringan pertimbangan nilai baik dan buruk merupakan awal dari bencana pemanfaatan medsos di era gadget.
Berberapa hal yang perlu di perhatikan kader HMI dalam mendayagunakan media sosial:
1.    Etika praktik dalam bermedsos
Etika dapat dipilah menjadi dua jenis, yakni: etika tertulis dan tidak tertulis. Etika tertulis sendiri bisa terbagi menjadi dua, yaitu: etika tertulis berdasar kesepakatan dan etika tertulis berdasarkan legal formal atau peraturan perundangan. Etika tertulis berdasar kesepakatan terbentuk karena adanya kesepakatan antarpihak yang terkait atau terlibat dan bersifat mengikat para penggunanya, seperti peraturan kesepakatan dalam penggunaan Kaskus. Sedangkan etika tertulis legal formal telah dirumuskan dan disahkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, seperti UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Adapun etika tidak tertulis merupakan kumpulan etiket, sopan-santun, nilai-nilai, norma dan kaidah yang lahir dari proses interaksi antarsesama, yang harus dihormati dan dipatuhi bersama-sama. Dengan demikian, etika sosial berkomunikasi pada prinsipnya merupakan panduan berperilaku dan bertindak yang mengacu pada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Menurut Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI (2014) Dalam lingkup medsos yang juga masuk kategori ruang publik, berikut ini berapa nilai, acuan, dan pedoman yang bisa menjadi dasar pertimbangan untuk bertindak bijaksana saat menggunakan akun-akun medsos:
1.      Sebaiknya memberikan informasi pribadi dan keluarga secara bijak atau tidak mengumbar informasi yang mengandung privasi. Data atau informasi yang bersifat privasi dan penting harus dirahasiakan. Hal itu dilakukan agar tidak menjadi sasaran orang yang berniat jahat atau kriminal. Informasi-informasi yang sebaiknya tidak diumbar karena sekadar ingin eksis di medsos antara lain: nomor-nomor penting seperti nomor rekening dan nomor telepon, alamat rumah, email, link, permasalahan dalam keluarga, rumitnya hubungan percintaan, hingga foto seluk-beluk dan kondisi
rumah. Ingat, meskipun di Facebook pada kolom update status ada tulisan “What’s on your mind” bukan berarti kita bebas mengungkapkan segala hal yang kita rasakan di medsos. Berbeda pertimbangannya, apabila medsos menjadi kanal untuk kepentingan bisnis, sosialisasi dan pemasaran, maka sejumlah info penting sesuai tujuannya di-publish ke medsos.
2.      Sebaiknya berkomunikasi secara santun dan tidak mengumbar kata-kata kasar. Gunakan kaidahkaidah bahasa dengan baik dan benar. Misalnya, menggunakan huruf kapital semua dan banyak menggunakan singkatan yang sulit dimengerti. Hindari kata-kata atau idiom yang artinya kotor, menghujat dan tidak sopan dalam bermedia sosial. Hal ini terkait dengan aspek diksi atau pemilihan kata-kata dalam berbahasa. Contoh paling gamblang adalah no twitwar dalam penggunaan microblogging ini, di mana pengguna Twitter berkicau dalam pembatasan 140 karakter saja dengan baik. Hindari mem-posting, sekadar retweet (RT), apalagi masuk dan ikut-ikutan memanasi kancah permasalahan orang lain, karena bisa saja hal itu justru merugikan dan mengganggu diri sendiri dan pihak lain yang tidak berkenan.
3.       Dilarang atau jangan menyebarkan konten yang bersifat pornografi dan dapat mengganggu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), baik itu berupa tulisan, foto, gambar, ilustrasi, suara maupun video. Apabila itu dilakukan, maka bisa menyinggung, membuat malu, dan memicu konflik atau pertentangan di antara sesama pengguna medsos yang berasal dari beragam latar belakang, tingkat pendidikan, umur, kepercayaan, dan agama. Saling menghargai dalam perbedaan adalah prinsip yang harus dijunjung tinggi dalam menggunakan medsos.
4.      Mengecek kebenaran konten dan informasi suatu berita atau kejadian sebelum menyebarkannya kembali melalui medsos. Apabila kita hendak ikut menyebarkan kembali suatu informasi, ada baiknya mengecek kebenaran informasi itu melalui tautan akun-akun berita dan informasi yang tersedia. Cara terbaik yang dilakukan adalah kritis terhadap konten yang diterima. Apakah informasi itu masuk akal, ilmiah, ataukah hasil rekayasa dan dipenuhi muatan kebencian dan kebohongan. Apabila ragu akan nilai kebenaran suatu konten, lebih baik kita tidak meneruskan atau menyebarkan luaskannya melalui medsos. Nilai-nilai kepantasan agar tidak melukai perasaan pihak lain juga bisa menjadi pertimbangan saat akan menyebarkan suatu konten, seperti misalnya mengabarkan atau memuat konten yang justru membuat orang lain makin berduka atau jatuh mentalnya.
5.      Terkait dengan hak pemilikan intelektual orang lain, sebaiknya hasil karya mereka dihargai dengan menyebutkan sumbernya. Hal ini dilakukan agar nilai-nilai orisinalitas juga dijunjung tinggi di antara pengguna medsos, terutama dalam konteks ilmiah, seni dan budaya. Perbuatan meniru memang sulit dihindarkan, tetapi jika sudah menyangkut atau mendatangkan nilai ekonomi ada baiknya menyebutkan sumber pembuat atau penciptanya. Hal ini biasanya terkait dengan hasil lukisan, gambar, foto, lagu dan video.
6.      Sebaiknya mengomentari sesuatu hal, topik, dan masalah dengan memahami dulu isinya secara komprehensif dan tidak sepotongpotong. Kebiasaan untuk memberi komentar dan memposting kembali suatu berita dari judulnya, paragraf pertama, kesimpulan atau bagian akhir tulisan saja sebaiknya dihindari. Salah komentar atau terjadinya kesesatan logika sering terjadi apabila pengguna atau user medsos ceroboh dan tergesa-gesa menilai tanpa melihat konteks isinya dan gegabah karena diliputi oleh emosi.
7.      Beropini dan mengeluarkan pendapat dengan berpijak pada fakta sebenarnya dan data yang sahih. Think before you write. Salah satu kekuatan atau kelebihan dari medsos adalah adanya kebebasan bagi pengguna untuk mengeluarkan pendapat tanpa ada filter atau gate penjaga. Nah, manfaatkan kelebihan itu dengan hati-hati agar opini yang kita sampaikan tidak memicu perselisihan hokum karena memuat konten yang tidak sesuai fakta dan tidak valid datanya.
8.       Jangan menuduh, menyerang, beropini negative dan memberikan informasi tidak benar melalui medsos. Apabila ada individu, entitas bisnis, dan lembaga yang merasa dirugikan dan tidak dapat menerima konten itu, maka bisa berujung pada somasi, permintaan maaf hingga pengguna medsos dilaporkan ke apparat kepolisian karena telah melanggar Pasal 27 dan Pasal 28 UU ITE. Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh pengguna medsos, sebagaimana bunyi Pasal 45, ayat (1) UU ITE bahwa setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah). Bahkan apabila pernyataan pengguna medsos dinilai telah membuat kerugian secara bisnis karena telah mencemarkan merek, brand dan nama besar, maka sering pihak-pihak yang dirugikan akan melayangkan gugatan perdata disertai dengan tuntutan ganti rugi.
9.      Jangan menggunakan medsos saat hati dalam kondisi emosi, pikiran jenuh dan kondisi kejiwaan yang labil. Misalnya saat sedih, marah, sakit, stress, mabuk dan tidak mampu berpikir secara jernih. Sering kali kondisi internal individual tersebut memengaruhi isi dari pendapat yang diunduh atau di-update ke forum, jejaring sosial dan blog, sehingga kontennya menjadi kabur, keliru, dan tidak seharusnya dikonsumsi oleh pengguna medsos yang lain. Just be nice.
10.   Jangan terpengaruh, sekadar ikut-ikutan, demi solidaritas buta saat berkomentar atau beropini di medsos. Paling tidak ada dasar-dasar yang masuk akal apabila hendak berpendapat sehingga kita memiliki dasar alasan yang kuat mengapa kita menyetujui atau tidak menyetujui konten yang tengah hangat menjadi perbincangan. Sedapat mungkin kita menunjukkan independensi dan integritas yang kuat dalam komentar dan opiniopini yang keluar.
11.  Kita secara pribadi, dalam diri masing-masing atau secara personal harus bisa menyaring (filter) dan membatasi konten dalam medsos. Jangan berlebihan dalam mem-posting atau dalam istilah perilaku, overacting. Misalnya dengan mengabarkan status kita baik itu berupa kondisi, perasaan, keberadaan, bahkan hal-hal yang akan kita lakukan yang bersifat pribadi dan tidak penting sekali untuk diketahui orang lain. Ingat bahwa semua yang telah di-posting akan dikonsumsi oleh orang lain dan di antara mereka mungkin saja ada yang bermaksud jelek kepada kita. Aksi penipuan dan kejahatan bisa terjadi karena pelaku kejahatan mengetahui dengan persis seluk-beluk seseorang yang menjadi target kejahatan.
12.  jangan menggunakan nama samaran, nama orang lain atau membuat akun samaran dengan tujuan apa pun. Hal itu bisa menjadi awal dari bentuk penipuan karena menyembunyikan identitas aslinya. Biasanya, penggunaan nama samara ini oleh orang yang tidak bertanggung jawab dikombinasikan dengan perbuatan tidak baik seperti menyebarkan atau mem-forward informasi bohong, menyesatkan, fitnah, mengadu domba, memperkeruh suasana, memanipulasi informasi, dan membunuh karakter pihak lain.
13.   Pergunakan medsos untuk hal-hal positif, baik dari segi konten maupun cara menyampaikannya. Sebaiknya memilih konten-konten yang bermanfaat demi produktivitas dan menunjang kehidupan yang lebih baik. Cara menyampaikan isinya pun jangan menyakiti atau mengecewakan orang lain. Pergunakan bahasa yang sopan, efektif dan efisien. Hindari kata-kata kasar dan jorok. Pakailah kalimat yang baik dan benar. Jika berkomentar sebaiknya mengetahui tentang permasalahan yang ada.
Jangan sekadar ikut-ikutan berkomentar. Jadikan medsos sebagai sarana untuk berbagi kebaikan, optimisme, kebahagiaan, saling tolong-menolong,
dan saling menghargai.
Kaidah dan nilai-nilai yang terdapat dalam etika tidak tertulis pada umumnya tidak mengikat secara hukum. Oleh sebab itu, apabila terjadi pelanggaran atau tidak ditaati maka tidak ada sanksi yang bisa diberlakukan. Sanksi yang muncul pada umumnya adalah sanksi sosial, seperti dikeluarkan dari grup, mendapat unfollow, dislike, mendapat kritikan, teguran, atau masukan dari orang lain, atau bisa juga dikucilkan (ekskomunikasi) oleh pengguna medsos yang lain.
2.    Pengembang Model Literasi  Media Yang Berkebhinekaan
Dalam hal ini kader HMI diharapkan mampu mengambil peran sebagai pengembang model literasi media yang berkehinekaan sehingga mampu mencegah informasi hoax yang saling menjatuhkan satu sama lain sehingga mampu mempererat rasa persatuan dalam bermedia sosial..
Menurut Juliswara (2007) Masifnya peredaran informasi palsu (hoax) melalui media sosial hendaknya menyadarkan para pengelola media arus utama untuk bekerja lebih profesional dengan standar jurnalistik tinggi. Masyarakat butuh rujukan informasi yang terpercaya dan pada sisi itulah media massa dapat menjawabnya melalui suguhan informasi yang terverifikasi. Media massa harus memperjelas fungsinya sebagai penyaji fakta empiris dan kebenaran.
Fungsi utama kerja media massa adalah membuat masyarakat memiliki informasi yang memadai tentang sebuah peristiwa dan fenomena. Fungsi semacam itu hanya bisa dipenuhi jika media massa terus menyajikan fakta-fakta empiris. Informasi dari media sosial yang belum jelas kadang begitu saja dirujuk dan dikutip media massa arus utama dalam pemberitaan mereka. Berita itu kemudian bergulir menjadi viral dan menjadi lingkaran setan. Melalui pendekatan kebhinnekaan atau kewargaan (citizenship education) dan kewargaan digital (digital citizenship) berfokus pada upaya mempersiapkan individu yang melek informasi dan warga yang bertanggung jawab, melalui studi hak, kebebasan, dan tanggung jawab. Upaya ini telah banyak digunakan dalam masyarakat yang rawan konflik kekerasan (Osler dan Starksey, 2005).
Salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran tentang hak-hak politik, sosial dan budaya individu dan kelompok, termasuk kebebasan berbicara dan tanggung jawab dan implikasi sosial yang muncul. Dalam beberapa kasus, argumentasi yang efektif dan keterampilan yang diperlukan untuk mengartikulasikan keyakinan dan pendapat pribadi secara bermartabat telah dimasukkan sebagai salah satu hasil belajar pada program pendidikan kewarganegaraan. Perhatian pendekatan kebhinnekaan terkait pesan kebencian meliputi pengetahuan dan keterampilan untuk mengidentifikasi pesan kebencian, sehingga memungkinkan individu untuk menangkal pesan kebencian. Salah satu tantangan saat ini adalah mengadaptasi tujuan dan strategi ini ke dunia digital, tidak hanya menyediakan  argumen, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan teknologis bahwa setiap warga negara mun kin perlu untuk menetralkan kebencian yang disebarkan melaluiberita media online dan media sosial. Sebuah konsep baru kewarganegaraan digital sedang diusulkan oleh beberapa organisasi yang menggabungkan tujuan inti dari literasi media dan informasi, bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan teknis dan kritis bagi konsumen dan produsen media, dan yang menghubungkan mereka dengan etika dan hak sipil.
Secara operasional, aspek literasi media ini harus bisa memunculkan kesadaran tentang posisi dan peran media baru (new media) dalam kehidupan berbangsa. Warga harus sadar bahwa media ibarat pisau bermata dua, bisa untuk membangun masyarakat atau merusak masyarakat dengan dampak-dampak yang diakibatkannya. Warga harus sadar bahwa mereka berada di ruang publik ketika berselancar di dunia online, sehingga segala tindakannya tidak bebas nilai. Lebih dari itu, warga juga harus sadar dengan peran strategisnya.
Setiap orang kini adalah wartawan (citizen journalist) ketika mereka terlibat dalam aksi mencari, menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi. Sebagai wartawan, perhatian pada etika adalah mutlak. Dari sisi kompetensi, literasi media dalam pendidikan kewarganegaraan harus mampu melahirkan kemampuan literasi media yang tinggi ditandai oleh:
1.      daya kritis dalam menerima dan memaknai pesan,
2.      kemampuan untuk mencari dan memverifikasi pesan,
3.      kemampuan untuk menganalisis pesandalam sebuah diskursus,
4.      memahami logika penciptaan realitas olehmedia,
5.      kemampuan untuk mengkonstruksi pesan positif dan  mendistribusikannya kepada pihak lain.
Di Indonesia, pendekatan kebhinnekaan yang memasukkan aspek literasi media belum menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran. Oleh karena itu penting mensosialisasikan pendekatan semacam ini mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dengan melihat dampak dari minusnya pemahaman media, sehingga meningkatnya pesan kebencian di media sosial, pemerintah nampaknya perlu melakukan revisi isi pendidikan kewarganegaraan dengan memasukkan aspek-aspek yang berkaitan dengan pesan kebencian pada media.
Target literasi media berkebhinnekaan ini terutama diarahkan ke kalangan muda, dengan beberapa pertimbangan. Pertama, secara umum, usia muda adalah fase rawan, di mana mereka belum memiliki konsep diri yang kokoh. Jiwa muda diwakili oleh semangat yang menggebu dan kecederungan cepat bereaksi pada stimulus dari luar. Kedua, kalangan muda inilah pengguna media baru terbesar. Mereka ini adalah penduduk asli dunia digital (native digital) yang akan mewarnai hiruk pikuk dalam dunia online. Bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dan pemahaman yang cukup tentang media tentu tidak bermasalah. Tetapi bagi mereka yang rentan pemehamannya terhadap media tentu sulit membedakan mana konten media yang bermanfaat, dan mana yang bermasalah jika dikonsumsi masyarakat tertentu. Pada titik itulah literasi media hadir untuk memberdayakan kelompok-kelompok rentan tersebut.
Pada lingkup perpaduan antara kehidupan dan pengetahuan tentang literasi media ini melihat bahwa “seorang yang melek media dapat menginterpretasikan, menganalisis, dan memproduksi pesan melalui media” (Potter, dalam Eadie, 2009: 562). Hal ini sejalan dengan tujuan literasi media adalah untuk menghasilkan warga masyarakat yang “well informed” serta dapat membuat penilaian terhadap content media berdasarkan pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap media yang
bersangkutan (Eadie, 2009:564). Literasi media mempunyai konsep memfasilitasi khalayak konsumen media (publik) untuk berbudaya dalam memanfaatkan media sosial.

















KESIMPULAN
            Media sosial merupakan sarana efektif dan efisien dalam menyampaikan suatu informasi kepada pihak lain. Media sosial sebagai media dengan dinamika sosial yang sangat tinggi dan memungkinkan komunikasi terbuka kepada berbagai pihak dengan beragam latar belakang dan kepentingan. media sosial  berfungi sebagai tujuh kotak bangunan fungsi yaitu identity, cenversations, sharing, presence,relationships, reputation, dan groups.
Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/ kejadian sejatinya. Tujuan penyebaran hoax beragam tapi pada umumnya hoax disebarkan sebagai bahan lelucon atau sekedar iseng, menjatuhkan pesaing (black campaign), promosi dengan penipuan.
Sebagai kader HMI yang memiliki lima kualitas insan cita yaitu insan akademis,pencipta,pengabdi,bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur diharapkan mampu mendayagunakan media sosial dengan berkualitas untuk menanggulangi kejahatan dalam media sosial seperti informasi hoax. Kader HMI harus mengambil peran untuk menjadi pengkampanye cerdas bermedia sosial namun sebelum melangkah lebih jauh ada berberpa hal yang perlu di terapkan dalam bermedia sosial salah satunya yaitu etika bermedia sosial.
Etika dapat dipilah menjadi dua jenis, yakni: etika tertulis dan tidak tertulis. Etika tertulis sendiri bisa terbagi menjadi dua, yaitu: etika tertulis berdasar kesepakatan dan etika tertulis berdasarkan legal formal atau peraturan perundangan. Adapun etika tidak tertulis merupakan kumpulan etiket, sopan-santun, nilai-nilai, norma dan kaidah yang lahir dari proses interaksi antarsesama, yang harus dihormati dan dipatuhi bersama-sama. Dengan demikian, etika sosial berkomunikasi pada prinsipnya merupakan panduan berperilaku dan bertindak yang mengacu pada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Selanjutnya dalam mendayagunakan media sosial kader HMI diharapkan mampu mengambil peran sebagai pengembang model literasi media yang berkehinekaan sehingga mampu mencegah informasi hoax yang saling menjatuhkan satu sama lain sehingga mampu mempererat rasa persatuan dalam bermedia sosial.. Secara operasional, aspek literasi media ini harus bisa memunculkan kesadaran tentang posisi dan peran media baru (new media) dalam kehidupan berbangsa. Warga harus sadar bahwa media ibarat pisau bermata dua, bisa untuk membangun masyarakat atau merusak masyarakat dengan dampak-dampak yang diakibatkannya. Warga harus sadar bahwa mereka berada di ruang publik ketika berselancar di dunia online, sehingga segala tindakannya tidak bebas nilai. Lebih dari itu, warga juga harus sadar dengan peran strategisnya.











DAFTAR PUSTAKA
Fuchs, C. (2008). Internet and society, social theory in the information age. Madison Ave, NY: Roudledge.
Fuchs, C. (2014). Social media a critical introduction. Los Angeles: SAGE
Publication, Ltd.
Howard, P. N. and Parks, M. R. (2012). Social Media and Political Change: Capacity,Constraint, and Consequence. Journal of Communication, 62, 359-362.
Juliswara,Vibriza.2017. Mengembangkan Model Literasi Media yang    Berkebhinnekaan dalam Menganalisis Informasi Berita Palsu (Hoax) di Media Sosial. Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 4 No. 2 ,
Laughey, D. (2007). Themes in media theory. New York: Open University Press.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial (perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi). Jakarta: Simbiosa Rekatama Media.
Osler, Starkey. 2005. Changing Citizenship 1st  Edition. London: Open University Press
Potter, W James dalam Eadie, F. William. (Ed). 2009.
21st Century Communication A Reference Handbook, Volume 2. Thousand Oaks,California: SAGE Publications, Inc.
Rahadi,rianto dedi .2017. Perilaku Pengguna Dan Informasi Hoax Di Media       Sosial .Jurnal Management dan Kewirausahaan. Vol 5 No 1.
Respati, S. ,2017, Mengapa Banyak Orang Mudah Percaya Berita “Hoax”?
 Kompas.com. Retrieved from http://nasional.kompas.com/read/2017/0 1/23/18181951/mengapa.banyak.orang. mudah.percaya.berita.hoax.
Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI .2014. Panduan optimalisasi media sosial untuk kementerian Perdagangan RI. Kementrian Perdagangan.
Woolley, J.K., Limperos, A.M., and Oliver, M.B. (2010) The 2008 Presidential Election, 2.0: A Content Analysis of User-Generated Political Facebook
Groups. Mass Communication and Society, 13(5), pp. 631-652.







instagram